Selasa, 12 Februari 2013

Loh Sebita, Pulau Komodo


Pos jaga Polhut di Loh Sebita
Loh Sebita merupakan kawasan Taman Nasionla Komodo yang terletak di Pulau Komodo, Flores, Manggarai Barat. Kawasan ini merupakan daerah yang banyak tumbuhan mangrove. Tumbuhan Mangrove yang terdapat di Loh Sebita yaitu Sonneratia sp.. Biasanya kawasan ini digunakan untuk penelitian dan bukan wisata. Akan tetapi, terkadang para wisatawan melakukan long tracking dari Loh Liang ke Loh Sebita yang ditempuh dalam waktu satu hari perjalanan (PP).



Sonneratia sp.

Terdapat beberapa fasilitas yang disediakan oleh pihak TNK pada para peneliti yaitu dermaga, pos jaga dengan beberapa fasilitas lainnya.

   Dermaga Loh Serbita

Saat kita menuju Loh Sebita kita akan disuguhi oleh pemandangan yang indah. Bukit-bukit yang hijau dan tinggi menjulang dengan savananya yang luas dan beberapa pohon gebangnya.




Lansekap di Loh Serbita

Untuk menuju ke Loh Sebita, dari Labuan Bajo ditempuh mengunakan kapal nelayan dengan waktu tempuh  5-6 jam. Dapat juga ditempuh dari Loh Liang dengan rute long track dengan waktu tempuh PP sehari (pagi-sore).


Cintai dan Jagalah Negeri Ini ... !!!

Salam, 
Penulis


         

Senin, 11 Februari 2013

Loh Liang, Pulau Komodo TNK

Papan Nama Lokasi Loh Liang

         Loh Liang merupakan kawasan wisata utama Taman Nasional Komodo (TNK) di Pulau Komodo, Flores, NTT. Kawasan ini diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 3 Juni 1988.

Batu Penandatanganan Presiden

   Disini Pengunjung akan di diajak menyusur rute-rute yang telah di persiapkan oleh pihak Taman Nasional untuk melihat  binatang purba Komodo yang di temani oleh jagawana/guide.

                     Rute/jalur yang akan dipilih pengunjung                           Penjelasan rute perjalanan 
                                                                                                            ke hutan oleh pemandu


Biasanya setelah penjelasan rute perjalanan dari para guide/pemandu, pengunjung dipersilahkan untuk memilih jalur mana yang akan ditempu. Ada empat rute jaur yaitu short track, medium track, long track dan adventure track. Biaya pemandu tergantung pada rute yang dipilih pengunjung.

Perjalanan para rombongan

Mulai masuk kawasan hutan

Komodo adalah binatang yang bergerak, jadi dalam setiap jalur belum tentu kita menemukan hewan tersebut. Hanya orang yang beruntunglah yang dapat bertemu hewan tersebut di habitat aslinya.

Varanus komodoensis yang sedang beristirahat

Selain bisa melihat Komodo, pengunjung juga bisa melihat Rusa timorersis yang merupakan makanan utama Komodo. Pengunjung juga dapat melihat Kakak Tua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) di berbagai site yang disediakan untuk lokasi pengamatan burung. 
Rusa timorensis yang ada di Loh Liang

Site untuk melakukan pengamatan burung

Di Loh Liang terdapat fasilitas yang tersedia bagi pengunjung yaitu guest house (pondok wisata), pusat informasi, cafetaria dan dermaga.
Cafetaria di Loh Liang

Sovenir 

Dermaga, Loh Liang

 
Guest house, Loh Liang

Biasanya para pengunjung akan dibawa oleh pemandu mengunjung para pedagang suvenir yang terletak di sekitar dermaga. Penjual souvenir merupakan orang-orang komodo yang menjual hasil buatannya ke wisatawan.
Para penjual sovenir oleh masyarakat kampung komodo

Harga masuk kawasan Taman Nasional Komodo sangat murah yaitu Rp. 2500,- saja. Hanya saja transport ke Loh Liang sanagt mahal. Wisatwan biasanya menyewa kapal yang di sewa dari pelabuhan Labuan Bajo seharga Rp. 1.500.000,- / Rp. 2.000.000 (kelompok/rombongan). Kalau sendiri/backpaker biasanya menggunakan kapal penumpang yang menuju ke Desa Komodo seharga Rp. 20.000,-. Kemudian keesokan paginya menuju ke Loh Liang dengan menggunakan kapal penjual sovenir atau jalan kaki saat laut sedang surut.

Kapal pengantar penjual sovenir yang menuju Loh Liang

Untuk menuju kesana sangatlah mudah. bagi orang yang suka jalan-jalan murah (backpacker) ada beberapa alternative perjalanan menuju kesana dengan biaya yang murah :
1. Yogyakarta-Bali-Labuan Bajo (Flores)

Bis dari Jogja menuju Bali turun di ubung seharga Rp 200.000,- lalu menuju Pelabuhan Tnjung Benoa naik kapal "Tilong Kabila" ekonomi seharga Rp. 200.000,- sayangnya kapal ini hanya 2 minggu sekali jadi 2 bulan hanya dua kali jalan sehingga kia harus atur jadwal yang pas saat kapal berada di Tanjung Benoa.

Bis dari jogja menuju Bali. kemuadian bisa menggunakan pesawat dari bandara Ngurah Rai Bali menuju Bandara Komodo (Labuan Bajo) seharga Rp. 600.000,, untu harga pesawat tergantung pandai pandainya kita untuk menyesuaikan waktu karena harga pesawat berubah sewaktu-waktu.

2. Yogyakarta-Bima-Labuhan Bajo (Flores)

Bis dari Jogja/Surakarta menuju Bima (jalur darat) melewati beberapa pulau diantaranya Bali, Lombok, dan melintasi ujung baeat Pulau Sumbawa sampai Ujung Timur seharga Rp. 550.000,-. setelah sampai terminal Bima. naik angkutan yang menuju pelabuhan Sape seharga Rp. 20.000. Kemudia naik kapal feri menuju kota Labuhan Bajo yang ditempuh selama 8 jam perjalanana seharga Rp. 45.000,-.

Sebelum kita ke komodo terlebih dahulu kita akan menuju kota Labuhan Bajo. Kota ini menjadi pintu gerbang utama wisatawan untuk menuju Pulau Komodo.

Pemandangan di Labuan Bajo dikala senja (dok. Edo)
Demikian sekelumit kisah wisata Komodo, Loh Liang. Selamat mencoba perjalanan kesana.

Jangan takut mencoba dan sendiri...!!!

Salam,
Penulis....


Kamis, 31 Januari 2013

Kampung Komodo, Bak Negeri Dongeng


    Dulu aku hanya lihat di peta, dulu aku hanya baca buku dongennya saja dan ternyata sekarang aku disini. Kampung komodo, bak negeri dongeng. Inilah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kampung ini. Udara yang masih segar, bintang-bintang bertaburan di kala malam, laut yang biru nan luas dan hamparan sabana yang hijau dan luas. Hemm,, sangat Indah.....
Hamparan sabana dan stepa yang luas
Kampung Komodo terletak di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan ke kampung ini dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan dari kota Labuan Bajo. Untuk menuju kesana biasanya menggunakan kapal penumpang yang bisa di jumpai di pasar ujung kota Labuan Bajo seharga Rp. 20.000,-. Kapal biasanya berangkat pagi antara pukul 07.00 - 08.00 WITA. Khusus hari minggu biasanya kapal-kapal libur untuk mengankut penumpang. Sesampainya disana kita akan tiba di dermaga Abdul Husen persis di depan Kantor Balai Desa Komodo. 

Kantor desa Kampung Komodo
Kata yang saya ucapkan pertama kali saat saya menapakkan kaki disana "INDAH". Setibanya disana, kita akan disuguhi oleh pemandangan lautnya yang dibatasi oleh beberapa berbukitan, rumah-rumah panggung yang menjulang tinggi danhalaman belakang kampung yang sangat indah dengan bukit-bukit hijaunya yang sangat luas dan gagah menjulang. Rumah dibangun mengunakan kayu dengan tiang fondasi yang tingginya sekitar 2,5 meter. Berada di rumah panggung, aku merasakan dunia ini serasa bergoyang. Ibarat kata, seperti gempa yang saya rasakan, saat mengguncang Jogja. Hahahaha,, mungki agak sedikit berlebihan, tapi itulah gambaran saya. Saat orang berjalan, benda-benda di dalam rumah bergoyang, barang pecah-belah berbunyi, dan langkah kakipun akan terdengar. jadi, mungkin pencuri akan sangat sulit untuk mencuri di rumah panggung.


Rumah panggung
Judul : Aku bebas di alam (dok.Umi, 2012)

      Mata pencarian penduduk disana adalah nelayan dan pedagang. Selain itu, mereka juga mengandalkan perekonomian dengan menjadi guide untuk para turis dan menjual berbagai souvenir. Souvenir yang banyak dijual adalah patung komodo. Mereka memahat sendiri patung tersebut. Dahulu, bahan pembuatan patung komodo berasal dari pohon ara yang merupakan tumbuhan khas disana. Akan tetapi, sekarang tumbuhan itu katanya sudah sangat sulit ditemukan. Maklum, penggunaan sumber alam tak seimbang dengan sumber alam yang ada. sehingga, digunakan alternatif kayu lain sebagai bahan penggati kayu tersebut. Ada juga masyarakat yang buat terasi dari udang rebon.

Perahu para nelayan di Kampung Komodo
Pemahat patung komodo
Bahasa sehari-hari yang paling sering digunakan adalah bahasa komodo. Orang-orang komodo sangat cepat dalam belajar bahasa. Selain bahasa komodo, mereka juga bisa bahasa bima, bahasa bajo dan bahasa manggarai. Mereka dituntut harus bisa bahasa selain bahasa komodo, karena hanya orang yang berasal dari komodolah yang mengerti bahasanya sendiri. Jadi, untuk berkomunikasi dengan pihak luar mereka menggunakan bahasa selain bahasa ibu.



Kampung komodo
      Udara disana sangat panas, selain itu rumah panggung menggunakan atap seng, jadi tau sendiri bagaimana rasanya di dalam rumah. Sehingga orang-orang kampung biasanya pada siang hari berada di bawah kolom rumah mereka. Walaupun cuaca disana sangat panas anak-anak tetap bermain bergembira berenang di tepi pantai di bawah teriknya matahari. Maklum disana listrik hanya menyala pada malam hari sehingga tidak ada waktu anak untuk menghabiskan waktu dirumah hanya nonton TV atau bermain game. bermain di alam bagi mereka sangat menyenangkan.


Berenang di pantai


Anak-anak bermain di halaman belakang kampung
Saat berada disana, setiap hari saya makan ikan laut dan cumi, benar-benar rasanya sampai bosan. Orang-orang disana sangat tidak menyukai sayur, maklum disana sangat susah sayur sehingga dari kecil orang-orang disana jarang makan sayur. Sehari mereka tak makan ikan laut  serasa ada yang kurang dalam makannya. Ibarat sayur tak enak tanpa garam.

Menjemur cumi-cumi untuk oleh-oleh pulang

Tinggal selama seminggu disana, saya menyadari betapa mereka bahagia dengan hidup yang serba terbatas. Listrik hanya ada dari jam 18.00-22.00 saja, air yang serba terbatas pemakainnya, bahan makanan terbatas seperti sayur mayur dan mahal tapi mereka tetap bisa hidup dengan tersenyum. Kita harus lebih banyak bersyukur atas apa yang kita miliki.

Terimkasih yang sebesar-besarnya, kepada Mas Ahmad dan Mas Deni serta para punggawanya Om Sidiq, Om Eros, Om Busran dan Kak Hama untuk semua petualangan yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan ini.


Jangan selalu kepalamu menengadah ke atas, tetapi terkadang kamu juga harus tunduk kebawah agar kamu selalu bersyukur...

Pulau Nusa Kode, Taman Nasional Komodo

Pulau Nusa Kode dilihat dari Loh Dasami, Pulau Rinca

Waktu saya kecil, saya pernah membaca buku yang mengatakan bahwa Indonesia itu adalah negara kepulauan.Saat itu saya hanya bisa membayangkan dan melihatnya saja di peta. Setelah saya berkesempatan berkeliling di kawasan Taman Nasaional Komomo,NTT, saya baru percaya bahwa Indonesia ini ternyata benar-benar negara kepulauan. Petualangan saya kali ini sampailah saya ke suatu pulau yang bernama Pulau Nusa Kode.

Tak banyak yang tahu kalau di Taman Nasional Komodo terdapat pulau ini. Pulau kecil yang tak berpenghuni ini sangat jauh, berada di balik pulau rinca sehingga keberadaanya tak banyak diketahui. Untuk kesana diperlukan waktu selama 5 jam perjalanan menngunakan perahu mesin. Menurut namanya Nusa Kode memiliki arti Nusa = Pulau dan Kode = Monyet, jadi  Nusa Kode disebut pulau monyet. Entah kenapa disebut pulau monyet apakah dahulu banyak monyet atau ada legenda lain.

senja di Nusa kode

Terdapat juga komodo (Varanus komodoensis) di pulau ini. Hanya saja biawak Komodo di pulau ini ukuran tubuhnya tak sebesar di 2 pulau besar lainnya yaitu Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Ada teori yang mengatakan bahwa adanya gigantisme pulau. Maksudnya adalah ukuran tubuh suatu makhluk hidup menyesuikan dengan seberapa besar tempat dia berada. Hal ini terkait oleh faktor makanan yang sedikit, jenisnya tak bervariasi dan kompetitior dari individu lain. Sehingga suatu makhluk hidup harus bisa fitness (menghasilkan keturunan) pada daerah yang sempit.

Pulau Nusa Kode dari dekat

Pulau Nusa Kode memiliki bentuk topografi yang curam dengan bukit-bukit yang menjulang tinggi dan vegetasi yang berupa semak berduri yang lebat. Hutan disini sangat sulit untuk ditembus. Disebelah selatan pulau ini langsung berbatasan denga samudra Hidia dengan ombak yang besar. Di sebelah utara pulau airnya sangat tenang dan terdpat banyak terumbu karang serta berbagai spesies ikan. Hal yang menarik di sini adalah kita bisa melihat kawanan lumba-lumba yang sedang asik bermain dan pari manta.



Salam lestari!!!

Kenalilah alammu, Lestarikan isinya dan Jagalah Bumi mu.....








Loh Baru, Lembah subur di tanah kering



Resot Loh Baru, Taman Nasional Komodo


Loh Baru adalah salah satu lembah paling indah di Pulau Rinca, Manggarai Barat, Flores, NTT. Loh Baru adalah lembah tersubur diantara lembah lainnya. Di sini terdapat air bersih yang selalu mengalir saat musim kering, dan bertambah besar alirannya saat musim hujan. Di sini sudah terdapat pos jaga dari Taman Nasional Komodo (TNK). Daerah ini dikelilingi bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hutannya juga masih bagus dengan pohon-pohon yang lebat dan tinggi. Tentu saja, di sini juga bisa dijumpai komodo yang tak kalah banyaknya seperti yang ada di Lembah lainnya.
Lanscape Loh Baru


Padang Sabana di Loh Baru

Akses menuju Loh Baru tergolong sangat sulit. Untuk mencapainya, harus menumpang kapal yang mengantar petugas tiap 10 hari sekali atau ikut bersama perahu nelayan. Selain itu, untuk menuju ke sana harus melewati Selat Molo yang terkenal dengan pusaran airnya saat sedang surut. Butuh waktu yang tepat agar kapal tidak terbalik dan tersedot ke dalam pusaran!

Dermaga Loh Baru

Tetap jalan jalan, mengenal negeri ini!!!! dan kau akan tahu betapa berharganya alam Indonesia......

Kain Songke Manggarai Barat

Banyak hal yang menarik dari Flores selain alamnya yang sangat cantik. Mulai dari rumah adat, adat istiadat, budaya, dan jenis busananya, mampu memikat hati wisatawan.

Kain Songke khas Manggarai Barat
Hal lain yang juga ikut mencuri hati wisatawan adalah kecantikan kain songket khas Flores. Setiap daerah di sana memiliki ciri khas pada corak gambar dan warna kain songket, seperti yang ada di Manggarai Barat. Orang Manggarai Barat biasa menyebut kain songket dengan songke. Corak, warna dan gambar pada kain songket ini, tidak dibuat asal-asalan. Ada makna tertentu yang tersirat dalam 'wajah' kain songket tersebut. Pembuatan desain kain songket Flores, dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi.

Alat tenun kain songke
Pekerjaan ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Bahkan terkadang ada yang mengerjakannya sampai berbulan-bulan tergantung motif dan kesulitan pola. Pantas saja, kalau harga kain songket di sana sangatlah mahal. Meski begitu, harga berbanding lurus dengan bagusnya songket yang dihasilkan. Tingkat kesulitan dan lama waktu pengerjaan menjadi pertimbangan harga. Setiap kain memiliki harga paling murah sekitar Rp 350.000. Walaupun harganya tidak bersahabat dengan para backpaker atau pelajar, tapi dijamin puas dengan hasilnya. Tips dalam memilih kain tenun adalah dilihat dengan teliti tenunannya, apakah halus atau kasar dan kerapian tenunan.

Salam Indonesia.....

Jumat, 14 Desember 2012

Mengenal Komodo, Dari Dekat!!!

     Pasti ada yang pernah tahu atau mendengar nama "KOMODO" donk,, hewan purba yang masih hidup sampai sekarang dan hanya hidup di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur (NTT). Terkadang orang menyamakan antara komodo dan biawak salvator. Meskipun komodo dimasukkan dalam keluarga biawak tapi keduanya berbeda. Untuk mengenalnya lebih dekat mari kita ulas sedikit tentang komodo.


    Biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens, 1912) sering dikenal sebagai komodo dan masyarakat setempat menyebutnya buaya darat atau ora. Biawak komodo merupakan kadal yang berukuran besar dan sebarannya terbatas (endemik) di lima pulau dalam pulau bagian tenggara Indonesia (Nusa Tenggara) yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Dasami (Nusa Kode), Gili Montang  (merupakan bagian dari TNK) dan Flores (Ciofi et al., 2007).  Biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan jenis reptil  yang dilindungi berdasarkan PP No.7 tahun 1999. Komodo masuk dalam daftar satwa yang dilindungi dan ditetapkan sebagai satwa nasional yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 4 tahun 1992. Perlindungan komodo juga dilakukan dengan melakukan perlindungan habitatnya dengan menetapkan Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar sebagai Taman Nasional pada tahun 1980. Secara internasional, komodo dikategorikan sebagai spesies yang rentan (vulnerable) terhadap kepunahan oleh IUCN 2000 (International Union for the Conservation of Natural resources) dan masuk dalam Appendix I CITES (Convention on Internasional Trade in Endangered spesies of Wild Fauna and Flora). 
Peta Taman Nasional Komodo
Komodo mempunyai ukuran tubuh yang besar dan panjang ketika telah mencapai dewasa dan memiliki bentuk tubuh hampir sama dengan biawak biasa. Komodo jantan dewasa dapat mencapai panjang 3 meter (SVL  154 cm) dengan berat mencapai 87 kg (Jessop et al., 2006). Gigi tajam dan besar berbentuk seperti gergaji sebanyak 60 buah gigi yang kerap berganti dengan lidah yang selalu menjulur keluar bewarna kuning dengan ujung bercabang dua (Ciofi, 1999).

Komodo (Varanus komodoensis)
Komodo membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa dan dapat hidup lebih dari 50 tahun. Reproduksi terjadi pada umur 5 sampai 7 tahun. Komodo tidak memiliki dimorfisme  jelas, reaksi pertama jantan biasanya agresif terhadap betina karena territorial, betina yang datang dianggap penyusup. Sehingga komodo betina terkadang diserang akan tetapi keduanya dapat terlibat dalam proses reproduksi yang sukses (Auffenberg,1981). Komodo akan menyimpan telurnya dalam tanah atau sarang yang telah digali sendiri. Sarang komodo dapat berupa sarang gundukan, sarang di tanah dan sisanya di tebing terbuka. Sarang burung gosong kaki merah (Megapodius reinwardt) merupakan sarang yang sering digunakan betina komodo untuk meletakkan telurnya (Jessop et al., 2003).

Sarang burung gosong kaki merah (Megapodius reinwardt)

Komodo merupakan predator teratas dan tidak mempunyai makanan khusus. Komodo merupakan pemburu yang sangat aktif seperti sebagian Varanidae. Komodo juga menerapkan perilaku predator, sit and wait ketika menyergap mangsa yang besar (Auffenberg,1981). Makanan utama komodo dewasa adalah rusa (Rusa timorensis), babi hutan (Sus scrofa) dan kerbau (Bubalus bubalis).  Komodo juga melakukan kanibalisme yang sering terjadi saat hewan ini berkumpul untuk memakan bangkai. Kanibalisme hanya terbatas pada komodo yang masih muda atau bangkai komodo tua (Auffenberg,1981). Untuk menghindari kanibalisme komodo dewasa, biasanya komodo anakan atau remaja memanjat pohon. Karena komodo dewasa tidak bisa memanjat pohon.

Komodo memanjat pohon
Mitos dari komodo..
Putri Naga dari Komodo
        Dahulu kala, di pulau komodo hiduplah seorang putri mistik yang diberi nama Puteri Naga. Putri ini menikah dengan seorang manusia yang bernama Najo. Tak lama setelah menikah, putri itu pun hamil dan melahirkan anak kembar. Bayi satu berwujud manusia dan yang satunya berwujud komodo. bayi yang berwujud manusia diberinama si gerong dan komodo diberi nama orah. keberadaan satu sama lain tidak tahu keberadaannya dikarenakan bayi yang berwujud komodo dibuang di dalam gua agar suami putri tidak tahu dan marah padanya. Pada suatu hari Si Gerong yang sudah menjadi dewasa sedang berburu rusa dihutan. Tiba-tiba datang sesosok makhluk besar mirip naga yang akan menganbil hasil buruannya. Akhirnya mereka terlibat perkelahian untuk mendapatkan rusa tersebut. Tiba-tiba datanglah Putri baga yang merupakan ibu meraka. Putri Naga berkata " Saya melahirkan kalian berdua sekaligus. Anggaplah dia sebagia sesamamu karena kamu adalah kembar ". Sejak saat itu, penduduk percaya bahwa komodo merupak saudara mereka dan  memperlakukan komodo secara manuawi . Antar pendduduk dan komodo hidup berdampingan berbagi makan dan berbagi ruang serta tak ada yang saling menyakiti. (Disadur dari buku The Dragon Princess from Komodo)


Komodo sangat terancam keberadaannya di alam. Mangsa yang (prey) yang semakin sedikit dan kerusakan habitat merupakan faktor menurunnya jumlah populasi komodo. Dibutuhkan kepedulian bangsa di dunia untuk menjaga komodo dari kepunahan. Jangan biarkan anak cucu kita hanya melihat dari fotonya.

"SELAMATKAN DAN JAGA KOMODO KARENA KOMODO ADALAH MAKHLUK TITIPAN TUHAN BAGI BANGSA INDONESIA..."

CINTAI NEGERI DAN BANGSAMU DENGAN MENGENAL DAN MELIHAT KEINDAHAN TANAH AIRNYA SENDIRI.....